Eksplorasi Mercusuar Anyer Melewati Fam Trip Banten

Mempunyai eksotime yang menakjubkan, wilayah Pantai Anyer menjadi salah satu primadona tamasya bahari di Banten. Pasalnya, sebagai tempat pesisir pantai, Anyer tak cuma mempunyai tamasya alam pantai yang cantik namun pesona tamasya sejarah seperti mercusuar menjadi energi tarik sendiri bagi pelancong.

Pada peluang Workshop Taktik Pemasaran Paket Tamasya Banten 7 Wonders yang digelar oleh Kementerian Pariwisata RI hal yang demikian melibatkan para pelaku pariwisata dari bermacam bidang yang menjadi peserta pelatihan diajak untuk mengeksplorasi salah satu bangunan sejarah sekalian tamasya pantai Mercusuar Anyer.

Anyer sendiri adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Menara suar hal yang demikian diyakini sebagai spot nol atau spot permulaan dari pembangunan jalan Anyer-Panarukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels. Peserta bahkan benar-benar antusias mengetahui lebih jauh dari sejarah Mercusuar Anyer yang dibangun pada tahun 1885.

Berdasarkan penuturan salah satu pemandu tamasya dari HPI Banten Sumanta Wiria, pada mulanya mercusuar Anyer dibangun pada tahun 1806 dan menjadi proyek jalan Anyer-Panarukan yang dikerjakan tahun 1825.

Kecuali itu sejarah dari bangunan hal yang demikian menjadi saksi dikala gunung krakatau meletus pada tahun 1883 sehingga membikin mercusuar hancur dan cuma menyisakan pondasinya saja. Melainkan pada tahun 1885, di bawah pemerintahan Z.M Willem III mercusuar ini kembali dibangun.

Daerah bersejarah yang sekarang menjadi obyek tamasya pantai mercusuar anyer ini banyak dikunjungi pelancong untuk mengabadikan moment sunset dari atas Mercusuar Anyer. Bermacam variasi alasan pelancong datang membikin daerah tamasya mercusuar anyer ini mempunyai keunikan tersendiri.

Trip Tunda Island

Menambah Wajah Karangantu

Dalam catatan sejarah, pelabuhan yang sekarang disebut Karangantu, yakni pelabuhan internasional yang besar dan sungguh-sungguh ramai disinggahi para pedagang mancanegara. Di sini adalah urat nadinya perekonomian Kesultanan Banten. Sebab daerah inilah karenanya Sultan berani merubah macam kerajaan yang dulunya pegunungan menjadi pesisir, sampai sentra ibukota bermigrasi dari Girang ke Hilir. Sebuah keputusan Sultan yang sungguh-sungguh berani, melainkan terbukti sukses memajukan kesultanan sampai menjadi kerajaan yang besar.

Terbayang bagaimana sibuknya tempat ini dikala itu. Perahu-perahu besar berbendera warna-warni lambang negara lain, hilir mudik di sini. Aneka barang jualan berjajar dengan para pegawai dan awak kapal bermacam warna kulit, bermacam bahasa, agama, suku bangsa, berkegiatan yang sama di pelabuhan yang konon buka 24 jam ini. Interaksi multi budaya antar mereka di sini, tentunya membikin pola pikir masyarakat lokal menjadi maju, terpicu untuk terus bangkit bergerak maju menggapai kehidupan yang lebih bagus ke depan. Wajar sekiranya Kesultanan Banten sebagai penguasa pribumi menjadi berkembang maka. Walau tentu ada efek akibat negatif imbas kerasnya kompetisi dagang dan saling merajai komonditi perdagangan, di belakang itu.

Sekarang… Warga menyebutnya sebagai Karangantu. Tempat ini bak kota mati yang cuma meninggalkan cerita kebesarannya.

Melainkan jangan bersedih dahulu, dunia kepariwisataan dapat memanfaatkan situasi ini menjadi sesuatu yang bisa meningkatkan kesejahteraan warga di sekitarnya, dari cuma menjadi nelayan handal.

No Comments